Selasa, 24 Maret 2015

Bagaimana Hubungan Sains dan Agama?

Hukuman dan ajaran sesat
Saat itu pengetahuan umum, ilmu pengetahuan dan Gereja memandang Bumi adalah pusat alam semesta. Tetapi lewat hasil pengamatan dengan menggunakan teleskopnya Galileo menyatakan Bumi berputar mengelilingi Matahari.
Menurut sejumlah legenda, Galileo dipenjara dan bahkan disiksa gereja Katolik.
Semua hal ini sebenarnya tidak terjadi, tetapi dia memang dituduh menentang agama, dikenai tahanan rumah, dipaksa menyatakan dirinya dikutuk dan menentang "kesalahan dan kesesatan" karya ilmu pengetahuannya.
Gereja kemudian mengakui kesalahan pandangannya dengan mencabut karya Galileo dari indeks buku-buku terlarang meskipun baru dilakukan pada abad 19.
Kemudian muncul keributan terkenal tentang Musa dan monyet di Inggris pada masa Ratu Victoria abad ke 19, ketika sejumlah warga Kristen menyerang teori evolusi Charles Darwin karena bertentangan dengan Injil.
Di Oxford pada tahun 1860, kurang setahun setelah penerbitan On The Origin of Species yang menjadi dasar teori tersebut, terjadi perdebatan terkenal antara Uskup Oxford, Samuel Wilberforce dan ahli biologi Thomas Huxley.
Dikabarkan bahwa di depan ruang pertemuan yang penuh pengunjung Wilberforce bertanya kepada Huxley apakah kakek atau neneknya yang keturunan monyet.
Uskup zaman Victoria memandang hal ini sebagai lelucon tetapi Huxley tersinggung.
Dengan marah dia mengatakan dirinya lebih suka menjadi keturunan monyat daripada seorang uskup yang menyalahgunakan kekuasaan dengan berusaha melucu dalam sebuah pembicaraan serius. 
galileo galilei,revolusi ilmiah,masa renaissance,astronomi modern,percobaan ilmiah,heliosentris,johannes kepler,masa pencerahan,Galileo Galilei menemukan, bahwa Bumi mengorbit Matahari, pengamatan yang ia lakukan saat menjadi tahanan rumah selama delapan tahun terakhir hidupnya. Foto: The Gallery Collection/Corbis

Bagaimana Hubungan Sains dan Agama?

Jadi apakah penolakan Profesor Hawking tentang Tuhan hanyalah salah satu contoh konflik yang sudah berlangsung lama antara agama dan ilmu pengetahuan?

Bagaimana Hubungan Sains dan Agama?Ilustrasi. Frans de Wall, ahli primata Emory University mengatakan, manusia tak perlu Tuhan untuk punya moralitas (Alejandro Gonzales/USA Today)
Kecaman kelompok ateis terhadap kunjungan Paus ke Inggris pada pertengahan September 2010 menggarisbawahi perbedaan antara agama dan ilmu pengetahuan yang sudah berlangsung lama.
Selama ratusan tahun para pemikir yang mendukung agama dan ilmu pengetahuan berusaha menyatukan kedua hal ini, kata Dr Thomas Dixon penulis buku Ilmu Pengetahuan dan Agama: Sebuah Pendahuluan Pendek dan pengajar sejarah di Universitas London.
Pernyataan Profesor Stephen Hawking pada Agustus 2010 bahwa fisika tidak memerlukan agama menjadi berita besar.
Buku barunya The Grand Design menggunakan Teori-M untuk menyatakan hukum fisika menciptakan alam semesta tanpa bantuan.
Ledakan Besar tidak memerlukan picuan supernatural. Big Bang bisa terjadi begitu saja, selama berkali-kali tanpa henti di alam semesta, sama seperti lilin pada kue ulang tahun yang tidak bisa ditiup mati.
Jadi apakah penolakan Profesor Hawking tentang Tuhan hanyalah salah satu contoh konflik yang sudah berlangsung lama antara agama dan ilmu pengetahuan?
Apakah sejarah mengisyaratkan kedua usaha besar manusia ini akan selalu berbenturan? Tidak selalu.
Banyak terjadi bentrokan antara keyakinan dan ilmu pengetahuan, yang paling terkenal kemungkinan adalah kecaman Galileo terhadap aksi agama Katolik menghukum kelompok sesat di Roma pada tahun 1633. 
stephen hawkingStephen Hawking (Wikimedia Commons)

Ekuador Berlakukan Status Darurat di Tempat Asal Teori Evolusi Darwin

Sebuah kapal barang yang membawa muatan polutan karam di perairan kepulauan tersebut pada pekan lalu.

Ekuador Berlakukan Status Darurat di Tempat Asal Teori Evolusi DarwinDarwinarch, Galapagos, Ekuador. (wkimedia commons)
Ekuador mengumumkan berlakunya status darurat lingkungan di Kepulauan Galapagos, Kamis (15/5), setelah sebuah kapal barang yang membawa muatan polutan karam di perairan kepulauan tersebut pada pekan lalu.
Kepulauan ini merupakan habitat dari flora fauna yang menjadi bahan penelitian teori evolusi Darwin dan merupakan situs yang ditetapkan UNESCO sebagai warisan dunia.
Penerapan status ini memberikan keleluasaan kepada segenap sumber daya untuk memindahkan kapal itu dan melakukan upaya mengurangi kemungkinan kerusakan lingkungan yang berisiko bencana.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Directorate of the Galapagos National Park (DPNG). Kapal itu kandas sesaat setelah lepas sauh dari pelabuhan Baquerizo Moreno di Pulau San Cristobal, Jumat (9/5).
Saat karam di atas kapal itu ada 19.000 galon, setara 72.000 liter, muatan bahan bakar yang sekarang sudah dipindahkan. Namun, kemungkinan pencemaran masih mungkin terjadi dari oli mesin dan produk pembersih yang sekarang masih tertahan di bagian kapal yang kedap udara.
Atas permintaan otoritas Galapagos, Menteri Lingkungan Hidup Ekuador Lorena Tapia mengeluarkan status darurat lingkungan tersebut.
"Ini bertujuan melindungi cadangan laut kepulauan tersebut, khususnya di daerah yang terkena dampak dari karam dan kemungkinan tenggelamnya kapal kargo Galapaface I," kata DPNG dalam pernyataannya.
Kepulauan Galapagos milik Ekuador ini terletak di Samudera Pasifik, sekitar 1.000 kilometer dari lepas pantai Ekuador, masuk klasifikasi sebagai situs warisan dunia yang ditetapkan UNESCO.
Galapaface 1 membawa kargo seberat 1.000 ton ketika kandas, terhadang pasir dan batuan yang meretakkan lambung kapal dan memicu banjir di ruang mesin.
Pada 2001, kapal "Jessica", yang memuat kargo bahan bakar juga kandas di lokasi yang sama, menyebabkan krisis lingkungan yang serius dan berdampak pada beberapa spesies di kawasan itu.
Perairan kepulauan ini merupakan habitat bagi populasi besar singa laut. Kepulauan Galapagos terkenal karena flora dan fauna yang dipelajari Charles Darwin dalam perjalanannya dari Beagle, era ketika Darwin mengembangkan teori tentang evolusi.
(Sumber: Kompas.com, AFP)

Kura-kura Raksasa Galapagos yang Terkenal Ini Mati

Pepe adalah kura-kura raksasa yang terkenal dan menjadi salah satu hewan yang paling banyak difoto di Kepulauan Galapagos.

Kura-kura Raksasa Galapagos yang Terkenal Ini MatiPepe the Missionary, mati dalam usia 60 tahun, menurut keterangan pejabat Ekuador, Jumat (22/8). (Ministerio Del Ambiente/AFP PHOTO via Kompas.com)
"Pepe the Missionary" mati dalam usia 60 tahun, menurut keterangan para pejabat Ekuador, Jumat (22/8). Pepe adalah kura-kura raksasa yang terkenal dan menjadi salah satu hewan yang paling banyak difoto di Kepulauan Galapagos, Ekuador.
"Pepe, yang tinggal di kandang di Galapagos National Park Interpretation Center, mati karena sebab alamiah," kata direktur ekosistem taman itu, Victor Carrion. "Beberapa organ tubuhnya perlahan gagal fungsi."
Adapun direktur taman, Arturo Izurieta, menyatakan duka atas kematian kura-kura itu di laman Twitter-nya. "Setelah hidup 60 tahun, Misionaris Pepe akan tetap ada dalam kenangan kita," ujar Izurieta.
Meski demikian, lanjut Izurieta, kematian Pepe tak membuat spesies kura-kura ini terancam keberadaannya. Pepe adalah anggota spesies Chelonoidis becki yang berasal dari Wolf Volcano di Pulau Isabela. Sekitar 2.000-an kura-kura dari spesies ini hidup di habitat asli mereka.
Pepe diadopsi oleh keluarga dari pulau San Cristobal pada 1940-an. Nelayan setempat menamainya Pepe. Namanya bertambah menjadi Misionaris Pepe, ketika dia diberikan kepada misionaris Fransiskan di pulau itu pada 1967.
Sesudahnya, Pepe menjadi maskot misionaris tersebut dan menjadi peliharaan tercinta komunitasnya. Dia sering difoto dan mendapat makanan dari para tamu. Para misionaris menyerahkan Pepe ke taman nasional pada 2012.
Penyerahan Pepe ke taman nasioanl terjadi pada tahun yang sama dengan kematian anggota terakhir kura-kura subspesiden Geochelone nigra abingdoni, Lonesome George. Kura-kura yang kemudian punah ini juga dulu sangat terkenal.
Kepulauan Galapagos terkenal karena flora dan fauna yang unik. Tanaman dan hewan di kepulauan ini merupakan salah satu lokasi utama yang dipelajari Charles Darwin saat mengembangkan teori tentang evolusi.
(Sumber: Kompas.com, AFP)

Perebutan Kura-kura Lonesome George

Dua lembaga berseteru untuk memperebutkan kura-kura raksasa yang sudah diawetkan yang dikembalikan setelah selesai dipamerkan di New York.

Perebutan Kura-kura Lonesome GeorgePutneymark/Wikipedia
Dua lembaga berseteru untuk memperebutkan kura-kura raksasa yang sudah diawetkan yang dikembalikan setelah selesai dipamerkan di New York.
Kura-kura bernama Lonesome George menjadi berita di seluruh dunia karena merupakan yang terakhir dari jenis kura-kura Pulau Pinta, Chelonoidis nigra abingdoni.
Lonesome George asal Kepulauan Galapagos mati pada Juni 2012 lalu dengan usia diperkirakan lebih dari 100 tahun walau tidak bisa dipastikan oleh para ilmuwan.
Pemerintah pusat Ekuador ingin dia dipamerikan di ibu kota Quito untuk menjamin kondisi perlindungannya.
Namun walikota Galapagos mengarakan Lonesome Geroge merupakan lambang dari Kepulauan Galapagos dan satwa yang terancam punah sehingga seharusnya dikembalikan ke asalnya.
Keputusan mengawetkan kura-kura tersebut diambil agar generasi masa depan bisa melihat salah satu spesies kura-kura yang pernah hidup di dunia.
Hingga saat ini belum ditemukan lagi kura-kura Chelonoidis nigra abingdoni setelah upaya para ahli selama puluhan tahun selalu menemui kegagalan untuk membuat kura-kura Pulau Pinta ini bereproduksi.
Kelangkaan dan kesendirian George membuat kura-kura raksasa ini menjadi maskot Galapagos dan mampu menarik 180.000 wisatawan setiap tahunnya.
Di kepulauan yang menginspirasi teori evolusi Charles Darwin ini, kini hidup sekitar 20.000 ekor kura-kura raksasa dari berbagai sub spesies.
(Sumber: bbc.co.uk/indonesia)

Misteri "Hewan Teraneh" Temuan Darwin Terpecahkan

Analisis menggunakan protein kolagen kuno memungkinkan fosil lebih tua dapat teridentifikasi.

Misteri ''Hewan Teraneh'' Temuan Darwin TerpecahkanIlustrasi Toxodon. (Illustration by Peter Schouten/"Biggest, Fiercest, Strangest"/W. Norton Publishers)
Saat Charles Darwin mengunjungi Amerika Selatan sekitar tahun 1830an, ia menemukan beberapa mamalia besar seperti Macrauchenia dan Toxodon. Bahkan Darwin menyebut temuannya itu sebagai salah satu hewan teraneh yang pernah ditemukan.
Macrauchenia, hewan seperti unta bermoncong panjang dan Toxodon, hewan bertubuh badak atau kuda nil bergigi layaknya pengerat.
Sejak temuan Darwin itu, belum ada yang mampu mengklasifikasikan hewan-hewan tersebut dalam pohon keluarga hewan apapun. Namun, dengan bantuan analisis protein kolagen kuno pada fosil itu, peneliti menyatakan sudah memecahkan teka-teki itu.
Dari hasil penelitian, ilmuwan mengungkap rahasia spesies yang telah lama punah. Hewan teraneh yang pernah ditemukan Darwin ini kemungkinan berasal dari zaman 60 juta tahun lalu hingga 12.000 tahun lalu.  
Tentang nenek moyang hewan ‘aneh’ itu belum terjawab. Karena peneliti belum mampu mengungkap DNA dari fosil hewan berkuku di Ameria Selatan itu. Hal ini disebabkan karena peningkatan suhu udara di benua tersebut.
Ian Barnes, ahli biologi dari Natural History Museum di London mencoba penelitian dengan metode lain. Yakni dengan penelitian kolagen. Protein ini bertahan 10 kali lebih lama dibanding DNA, namun juga tetap merupakan komponen struktural tulang. 
Dari hasil penelitian itu, mereka mengklasifikasikan kerangka temuan Darwin itu dalam bagian kelompok Afrotheria bersama dengan gajah dan manatee (lembu laut). 
(Sumber: nature.com)

Promosi Kuliner Nusantara ke Dunia, Apa Kendalanya?

Ada tiga hal yang menjadi fokus para pakar kuliner Nusantara untuk mengembangkan promosi kuliner kita agar dapat bersaing dengan negara lain.

Promosi Kuliner Nusantara ke Dunia, Apa Kendalanya?Pindang bandeng, kuliner Imlek yang hanya ada di Indonesia. (kompas.com)
William Wongso, pakar kuliner Indonesia, mengemukakan pendapat mengenai kemajuan posisi kuliner Indonesia saat ini dalam sebuah bincang kuliner yang diadakan beberapa waktu lalu.
Ia berpendapat, geliat dari banyak pihak untuk mulai meningkatkan martabat kuliner asli dari negeri sendiri kian terlihat, di antaranya didukung oleh hadirnya era digital yang membuat berbagi informasi kian mudah.
Ditambah lagi, pemerintah mulai memberi dukungan, salah satunya melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat menterinya di periode lalu dijabat oleh Marie Elka Pangestu.
Namun perlu diakui, masih ada sejumlah hal yang seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. William Wongso menyebutkan tiga alasan kuliner Indonesia sulit bersaing dengan kuliner khas negara lain.
Penyebab kurang maksimalnya kuliner khas Indonesia untuk menguasai lidah dunia, yakni:
1. Istana Negara tidak menyajikan sajian khas nusantara untuk tamu para pemimpin dari negara sahabat.
"Saya harus jujur, setiap ada tamu kenegaraan, misalnya presiden atau pemimpin negara sahabat, Istana Negara malah tidak menyuguhi sajian khas nusantara. Yang disajikan justru menu khas dari negara asal pemimpin negara tersebut. Padahal, sejatinya orang asing datang ke Indonesia pasti ingin mencoba makanan lokalnya, kan? Sayang sekali," tutur William.
2. Industri bahan baku asal Indonesia belum mampu bersaing dengan merek dari negara lain, misalnya Thailand dan Vietnam.
Otomatis, ini juga menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing.
"Harus diakui juga, masakan Indonesia memang belum berperan banyak dalam industri horeka (hotel restoran dan kafe) di dunia internasional.
Di luar negeri, saya sampai kesulitan mencari santan instan atau kecap asli dari Indonesia, sementara merek dari Thailand begitu banyak pilihannya."
3. Faktor pendidikan di bidang kuliner pun menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing di kancah dunia.
"Sekolah perhotelan setingkat SMK sebagian besar hanya mengajarkan menu-menu asing pada kurikulum utamanya. Setelah mereka menguasai menu asing, barulah diajarkan menu atau masakan khas Indonesia. Tapi sayang, pengajarnya tidak ada."
Tiga hal itulah yang menjadi perhatian William, yang menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing dengan masakan khas dari negara lain, terutama Thailand, untuk dikenal dan populer di mancanegara.
Sehingga ia berharap pemerintah yang baru sekarang ini juga bisa lebih mendukung geliat banyak pihak dalam meningkatkan martabat kuliner nusantara di mata dunia.
(Intan Y. Septiani, via tribunnews.com)