Selasa, 24 Maret 2015

Rekor Terburuk Dampak Pemanasan Global di Laut Artik

Cuaca panas yang tidak biasa di Alaska dan Rusia merupakan penyebab tingginya luas lelehan es di Laut Artik.

Rekor Terburuk Dampak Pemanasan Global di Laut Artik(thinkstockphoto)
Dalam musim dingin tahun ini, lapisan es di Laut Artik tercatat mencapai luas 14,5 juta kilometer persegi menurut Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) dari Universitas Kolorado di Boulder.
Luas ini adalah yang terendah sejak 1979, ketika untuk pertamakalinya dilakukan pencatatan dengan satelit untuk mengukur luas lapisan es di sana.
NSIDC menyatakan tingkat maksimum lapisan es di kawasan ini telah tercapai pada tanggal 25 Februari tahun ini dan kini lapisan es mulai mencair seiring musim semi.
Jumlah yang tercatat pada akhir Februari adalah 130.000 kilometer persegi lebih rendah ketimbang rekor sebelumnya, yang tercatat pada tahun 2011.
Para ilmuwan percaya bahwa cuaca panas yang tidak biasa di Alaska dan Rusia berpengaruh terhadap berkurangnya lapisan es.
Peneliti masih akan mengumpulkan data rerata bulanan, yang dipercaya bisa menjadi indikator lebih baik untuk melihat dampak perubahan iklim.
Menanggapi data ini, Alexander Shestakov, Direktur WWF Global Arctic Programme, mengatakan, "Ini bukan rekor yang bisa dibanggakan."
Menurutnya lapisan es yang rendah dapat menyebabkan reaksi yang dapat 'mengancam Artik dan bahkan seluruh bumi.'
Dalam penelitian baru-baru ini, lapisan es di Laut Artik telah menipis 65% antara 1975 hingga 2012.
(Sumber: BBC Indonesia)

NASA Luncurkan Pesawat Peneliti Magnit Bumi dan Matahari

NASA meluncurkan pesawat antariksa dari Cape Canaveral, Florida.

NASA Luncurkan Pesawat Peneliti Magnit Bumi dan MatahariNASA meluncurkan pesawat antariksa dari Cape Canaveral, Florida. (AP/VOA Indonesia)
Badan Antariksa Amerika NASA telah meluncurkan empat pesawat antariksa yang dirancang untuk meneliti hubungan magnit antara Bumi dan Matahari.
NASA meluncurkan pesawat itu Kamis malam (12/3) dari Cape Canaveral, Florida, dalam roket yang tidak berawak.
Pesawat itu diperkirakan akan terbang dalam formasi piramida di orbit lonjong, yang memberi pemandangan tiga dimensiatau 3-D medan magnit ketika ke-4 pesawat itu berpisah dan berdekatan kembali, yang melepaskan banyak energi.
Pelepasan energi itu-lah yang menyebabkan aurora borealis atau yang disebut “Sinar Utara,” dan badai surya yang dapat mengganggu gelom
(Sumber: VOA Indonesia)

Waktu yang Tepat Bagi Indonesia Menyaksikan Gerhana Matahari Total

Kapan gerhana matahari total akan menyapa warga di Indonesia?

Waktu yang Tepat Bagi Indonesia Menyaksikan Gerhana Matahari TotalGerhana Matahari total sebagai bagian dari gerhana Matahari hibrid pada Minggu (3/11/2013), diabadikan dari wilayah Atlantik (Ben Cooper)
Gerhana matahari total menyapa warga di sejumlah wilayah Eropa, Asia Utara, dan Afrika bagian utara. Kapan gerhana matahari total akan menyapa warga di Indonesia?

Pada situs Solar Eclipse Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) diungkapkan, gerhana matahari total baru akan menyapa Indonesia pada 9 Maret 2016 mendatang.

Kepala Observatorium Bosscha Mahasena Putra mengatakan, "Pada 9 Maret 2016 nanti bayangan akan bergerak dari barat ke timur, dari Samudra Hindia, lalu masuk ke wilayah Sumatera, Bangka Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi, lalu ke Pasifik."

Dalam pertemuan Discover Indonesia's Solar Eclipse 2016, Desember 2014 lalu, Mahasena mengungkapkan, gerhana tahun 2016 akan istimewa bagi Indonesia. Tak hanya memungkinkan bagi masyarakatnya untuk bisa melihat gerhana, Indonesia akan menjadi lokasi terbaik pengamatan gerhana matahari total.

Sejumlah wilayah Indonesia yang bisa mengamati gerhana matahari total tahun depan adalah Bangka Belitung, Pontianak, dan Palu. Wilayah Palu akan menjadi lokasi terbaik sebab akan mengalami totalitas gerhana terlama di dunia, yakni 2 menit dan 50 detik.

Sejumlah informasi di media sosial yang beredar belakangan menyebut bahwa Indonesia bisa melihat gerhana pada Jumat (20/3). Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo berkata, "Ada 4 gerhana pada tahun 2015, yakni 2 gerhana matahari dan 2 gerhana bulan. Kita hanya kebagian gerhana, yaitu gerhana bulan besok tanggal 4 April."

Gerhana matahari total sebenarnya merupakan fenomena yang rutin terjadi setiap tahun. Namun, fenomena itu menjadi sulit diamati karena hanya terjadi di wilayah yang sangat sempit dan dalam waktu singkat.

"Ini karena penentu wilayah gerhana dalam gerhana matahari kan piringan bulan, yang ukurannya hanya sepertiga diameter piringan Bumi," ujar Ma'rufin. Wilayah yang ditutupi pun lebih sempit.

Tentang gerhana hari ini, meski dinyatakan bisa dilihat oleh warga Eropa, Afrika bagian utara, dan Asia bagian utara, wilayah yang bisa menyaksikan gerhana matahari total sendiri hanya sepanjang Kepulauan Faroe hingga Svalbard.

Wilayah London misalnya, tempat banyak orang berkumpul untuk menyaksikan gerhana, sebenarnya hanya bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian, walaupun piringan matahari yang tertutup bulan mencapai 85 persen.

Karena masih akan terjadi sekitar 1 tahun lagi, tak ada salahnya mulai sekarang Anda menabung untuk bisa melihat gerhana matahari total pada tahun depan. Bila melewatkannya, Anda harus menunggu paling tidak hingga tahun 2023.
(Yunanto Wiji Utomo/kompas.com)

NASA Teliti Dampak Penerbangan Antariksa pada Tubuh Astronaut

Dua astronaut kembar identik dikirim dalam misi meneliti dampak penerbangan luar angkasa pada tubuh manusia.

NASA Teliti Dampak Penerbangan Antariksa pada Tubuh AstronautScott dan Mark Kelly, dua astronaut kembar identik yang diutus NASA dalam penelitian mengetahui dampak penerbangan antariksa terhadap tubuh manusia. (VOA Indonesia)
Dua astronaut kembar identik berharap bisa memberikan pemahaman yang lebih baik bagi badan antariksa AS (NASA), mengenai dampak perjalanan jarak jauh di antariksa terhadap tubuh manusia, dalam sebuah eksperimen yang baru pertama kali dilakukan.
Dalam upaya untuk menerbangkan misi berawak ke Mars, dua astronaut kembar yang berpengalaman, Mark dan Scott Kelly, akan ikut dalam sebuah studi selama setahun.
Kepala Program Riset Manusia di NASA, Dr. John Charles, mengatakan timnya akan membandingkan kedua astronot itu untuk mempelajari bagaimana perjalanan di antariksa yang lama berdampak pada tubuh manusia.
"Ini merupakan kesempatan baik untuk membandingkan langsung dua orang kembar identik. Ini juga merupakan cara untuk memanfaatkan teknologi medis abad ke-21 untuk memahami apa yang terjadi pada manusia dalam penerbangan antariksa jarak jauh," kata Charles.
Scott Kelly akan tinggal selama setahun di Stasiun Antariksa Internasional - rekor terlama bagi NASA.
Sementara saudara kandungnya, Mark yang menikah dengan mantan angota Kongres Gabby Giffords, akan berada di darat dan bertindak sebagai kontrol dalam eksperimen dan analisis fisik itu.
Scott Kelly mengatakan eksperimen itu akan membantu para periset untuk mempelajari dampak negatif antariksa terhadap fisik manusia dan, berharap bisa menemukan cara untuk mengurangi dampak-dampak itu.
Selama dalam program Antariksa Internasional itu, Scott akan melakukan sejumlah eksperimen serta menjalani tes-tes medis.
Misi itu akan diluncurkan hari Jumat (27/3) ini dari Kazakhstan.
Para ilmuwan berharap bisa mempelajari lebih banyak lagi mengenai dampak antariksa pada tubuh manusia untuk menyiapkan penerbangan panjang ke Mars. Scott akan bergabung di stasiun antariksa internasional dengan Kosmonot Rusia Mikhail Kornienko, yang juga akan tinggal di sana selama setahun.
(Jeff Custer/VOA)

Ditemukan Bekas Kawah Raksasa Akibat Tumbukan Asteroid di Australia

Diduga asteroid yang jatuh berukuran besar sehingga meninggalkan jejak berupa kawah dengan diameter 200 kilometer, ukuran terbesar yang pernah ditemukan.

Ditemukan Bekas Kawah Raksasa Akibat Tumbukan Asteroid di AustraliaIlmuwan Australia menemukan bekas kawah raksasa di Australia Tengah yang diyakini sebagai wilayah terluas di muka Bumi dari hasil tumbukan asteroid pada masa lalu. (Kompas.com)
Ilmuwan Australia menemukan bekas kawah raksasa yang diyakini sebagai wilayah terluas di muka Bumi dari hasil tumbukan asteroid pada masa lalu. Kawasan ini ditemukan di Australia tengah.
Tim yang dipimpin oleh Dr Andrew Glikson dari Australian National University (ANU) menyatakan, dua kawah kuno yang ditemukan di Australia tengah diyakini sebagai hasil salah satu meteorit yang terpecah menjadi dua.
"Tampaknya itu adalah dua struktur besar dengan masing-masing berdiameter 200 kilometer," kata Dr Glikson. "Jadi, keduanya membentuk struktur 400 kilometer, (ukuran) terbesar yang pernah kami temukan di dunia," ujar dia.
Dr Glikson menyebutkan, asteroid yang jatuh ke bumi tersebut kemungkinan telah menyebabkan kepunahan massal besar pada saat itu. Hingga saat ini, mereka belum bisa memastikan, sudah berapa lama asteroid ini berdampak di dunia.
Dilihat dari bentuknya yang identik, para peneliti percaya bahwa kawah raksasa itu berasal dari meteorit yang sama.
Selama jutaan tahun, kawah telah menghilang. Namun, pengeboran panas bumi telah mengungkap rahasia sejarah tersembunyi di bawah kawasan tersebut, termasuk di negara bagian Australia Selatan, Queensland, dan Northern Territory.
"Langkah berikutnya, akan lebih banyak penelitian, mudah-mudahan bisa hingga kedalaman seismik," kata Dr Glikson.
Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang situs bawah tanah. Misalnya, bagaimana asteroid kembar tersebut pada saat itu memengaruhi kehidupan di bumi.
"Ketika kita tahu lebih banyak mengenai lamanya dampak, maka kita akan tahu apakah ada hubungannya dengan salah satu kepunahan massal (dinosaurus)," ujar Dr Glikson. "Pada tahap ini, kami tidak memiliki semua jawaban. Namun, peminatnya sudah banyak, dan orang-orang tertarik dengan dampak dari asteroid pada dinosaurus," katanya.
Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal geologi Tectonophysics.
(Australia Plus ABC, via kompas.com)

Dahulu, Ada Salamander Sebesar Mobil

Peneliti telah menemukan fosil salamander kuno yang memiliki tubuh sebesar mobil.

Dahulu, Ada Salamander Sebesar MobilIlustrasi: salamander kuno yang memiliki tubuh setara mobil (Marc Boulay/Cossima Production via BBC.co.uk)
Para ilmuwan telah menemukan tulang salamander kuno yang diperkirakan memiliki ukuran sebesar mobil.
Steve Brusatte dari University of Edinburg melakukan penggalian di bagian selatan Portugal. Hasilnya mereka menemukan paling tidak 10 fosil kerangkatubuh salamander raksasa.
Meski memiliki keterkaitan dengan salamander modern, hewan ini justru berperilaku seperi buaya atau dinosaurus. 
Dalam segi rantai makanan, salamander kuno ini memiliki tingkatan tertinggi berbeda dengan salamander modern. “Karena salamander kuno ini mempunyai gigi tajam pada kepalanya yang berbentuk pipih,” ujar Brusatte.
Pada akhir zaman trias, saat dinosaurus dan mamalia masih berukuran kecil, salamander ini sudah bertindak layaknya “anjing besar”. Saat itu salamander kuno begitu mendominasi.
Namun, dominasi spesies ini harus terhenti ketika gunung berapi memusnahkannya. “Di satu sisi, meletusnya gunung api telah memberikan kesempatan bagi dinosaurus dan mamalia mendominasi bumi,” kata Brusatte.
Begitu pula dengan iklim yang terus bergejolak saat itu, sedikit banyak memberikan dampak bagi kepunahan salamander kuno. 
(Sumber: time.com, bbc.co.uk)

Mampukah Katak di Madagaskar Bertahan dari Serangan Jamur?

Hingga saat ini spesies katak di Madagaskar masih bertahan terhadap jamur chytrid.

Mampukah Katak di Madagaskar Bertahan dari Serangan Jamur?Pada habitat katak ini, telah menyebar jamur Chytrid yang mungkin dapat mengancam eksistensinya. Namun hingga sekarang, beberapa jenis katak mampu bertahan meski tubuhnya telah terjangkit jamur Chytrid. (Molly Bletz)
Madagaskar merupakan rumah bagi beranekaragam amfibi, khususnya katak. Sayangnya, Madagaskar sedang menghadapi ancaman besar karena berkembangnya jamur chytrid yang mampu membunuh spesies amfibi.
Saat ini, sebanyak 7 persen spesies amfibi di dunia hidup di Madagaskar. Molly Bletz dari University of Technology di Jerman mengungkap, jamur chytrid bertanggung jawab atas punahnya ratusan spesies amfibi di dunia.
Seperti kasus kepunahan 30 spesies amfibi di Panama yang terjadi karena jamur chytrid. Kini peneliti berpandangan, penting untuk mencegah perkembangan jamur mematikan bagi amfibi agar tidak terus meluas. Dikhawatirkan menyebarnya jamur dapat mengontaminasi katak dan berdampak pada eksistensi spesies.
Meski demikian, kekhawatiran peneliti dapat berkurang karena Bletz dan koleganya telah menemukan hal yang mampu mengurangi kekhawatiran itu. 
Sejak 2005 hingga 2014, Bletz telah mengamati 4.155 amfibi di Madagaskar. Hasilnya tahun 2010, ia menemukan adanya indikasi katak telah terjangkit jamur Chytrid.
Namun hingga kini, mereka belum menemukan tanda-tanda katak terjangkit penyakit yang dapat membuat kepunahan. Ada kemungkinan, menurut Bletz, di Madagaskar jamur chytrid tidak mematikan.
“Inilah skenario terbaik dari kondisi terburuk,” papar Jonathan Kolby dari Queensland James Cook University, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. 
(Jane J. Lee/National Geographic)