Sabtu, 28 Februari 2015

Militer AS Kembangkan Gajah Pelacak Bahan Peledak


"Anjing membutuhkan pelatihan rutin, sementara gajah tampaknya bisa memahami dan mengingat bau benda tertentu."

Militer AS Kembangkan Gajah Pelacak Bahan PeledakSejumlah gajah dilatih untuk memilih ember yang telah dilumuri bau bahan peledak. Hebatnya, gajah dengan mudah menemukan ember itu dan selalu berhasil meski tugas ini dilakukan berulang kali. (Reuters/Daily Mail)
Jika kita melihat polisi membawa anjing pelacak untuk mengendus obat terlarang atau bahan peledak, hal itu mungkin sudah menjadi pemandangan biasa.
Namun, bagaimana jika yang digunakan polisi adalah seekor gajah?
Saat ini, sejumlah gajah di Afrika Selatan tengah dilatih untuk menggunakan indra penciumannya yang super-tajam untuk mengendus keberadaan bahan peledak dan pemburu gelap.
Proyek yang didukung Badan Riset AD Amerika Serikat ini muncul setelah sejumlah gajah di Angola diketahui menggunakan belalai mereka untuk menghindari ladang ranjau sisa perang saudara selama puluhan tahun di negeri itu.
"Belalai gajah sangat luar biasa. Bayangkan mammoth yang harus mengendus makanan di bawah lapisan es," kata Sean Hensman, pengelola peternakan wisata Adventures with Elephants di Afrika Selatan.
Dalam serangkaian tes, seekor gajah jantan berusia 17 tahun bernama Chisuru diperintahkan berjalan melintasi barisan ember. Bagian bawah di salah satu ember itu ditempelkan aroma TNT.
Chishuru kemudian diminta mengendus ember-ember itu menggunakan belalainya. Dia dilatih untuk berhenti dan mengangkat salah satu kaki depannya jika dia menemukan ember dengan aroma TNT itu.
Dalam setiap kali tes, Chisuru tak pernah salah memilih ember yang telah dilurumi aroma TNT itu. Setiap kali berhasil, Chisuru mendapatkan upah berupa makanan favoritnya, buah marula.
Para peneliti Angkatan Darat AS, yang telah terlibat dalam proyek ini selama lima tahun, mengatakan bahwa gajah tak akan pernah dipekerjakan untuk melacak bahan peledak di lapangan.
Namun, drone atau robot bisa digunakan untuk mengumpulkan bahan-bahan yang dicurigai, kemudian akan diperiksa oleh para gajah ini di tempat lain.
"Kami bisa membawa benda-benda mencurigakan yang dikumpulkan oleh robot tanpa awak kepada gajah untuk diperiksa," kata Stephen Lee, peneliti kepala Badan Riset AD Amerika Serikat.
Meski gajah memiliki indra penciuman yang sangat tajam, para ilmuwan masih kebingungan menentukan hewan mana yang memiliki indra penciuman terbaik, anjing atau gajah?

Namun, Stephen Lee mengatakan, terdapat sejumlah fakta yang sesuai dengan pepatah lama bahwa gajah tak pernah lupa. "Anjing membutuhkan pelatihan rutin, sementara gajah tampaknya bisa memahami dan mengingat bau benda tertentu tanpa membutuhkan pelatihan dalam waktu lama," tambah Stephen.
(Ervan Hardoko/Kompas.com)

Selera Makan Hiu Putih Berbeda-beda


Makanan hiu putih berubah sejalan dengan bertambahnya usia

Selera Makan Hiu Putih Berbeda-bedaHiu putih (Carcharodon carcharias)
Hiu putih (Carcharodon carcharias), spesies hiu predator terbesar di samudera, sebelumnya diperkirakan merupakan predator puncak yang utamanya mengonsumsi anjing laut dan singa laut. Namun, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti asal University of California, Santa Cruz (UCSC), mengungkapkan fakta mengejutkan. Ternyata, setiap individu hiu memiliki preferensi makanan sendiri-sendiri.
Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal PLoS One, peneliti mengamati komposisi pertumbuhan tulang belakang untuk mengetahui makanan yang telah disantap hiu yang bersangkutan selama hidupnya. Isotop karbon dan nitrogen yang masuk ke dalam jaringan tubuh hewan itu digunakan sebagai alat pelacak asupan makanan.
“Seperti diharapkan, kami menemukan bahwa makanan hiu putih berubah sejalan dengan bertambahnya usia. Namun, kami terkejut bahwa pola makan dan bervariasinya perubahan ini berbeda-beda di setiap individu,” kata Sora Kim, ketua tim peneliti asal UCSC.
Dalam studi tersebut, peneliti mengamati 15 hiu putih dewasa yang ditangkap di perairan pantai barat Amerika Serikat. Sebagai gambaran, populasi hiu di kawasan ini mengonsumsi beraneka ragam makanan, termasuk anjing laut, singa laut, lumba-lumba, berbagai macam ikan, dan cumi-cumi. Tetapi tidak semua hiu memakan campuran makanan yang sama.
“Kami bisa memastikan bahwa makanan setiap ekor hiu yang diamati beralih dari anjing laut dan singa laut ke mamalia laut lainnya sejalan dengan beranjak dewasanya hiu yang bersangkutan,” kata Paul Koch, peneliti dari UCSC. “Selain itu, kami juga menemukan bahwa setiap individu hiu menspesialisasikan diri ke mangsa tertentu,” ucapnya.
Koch menyebutkan, dua macam fleksibilitas dalam perilaku makan-memakan ini sulit didokumentasikan menggunakan metode tradisional. Meski begitu, sangatlah penting untuk memahami bagaimana populasi hiu ini terbantu oleh ekosistem yang ada di Pasifik dan bagaimana mereka merespons terhadap perubahan yang terjadi di ekosistem tersebut.
Hiu-hiu yang diteliti tersebut ditangkap pada waktu dan tempat yang berbeda-beda di sepanjang pesisir kawasan itu, mulai dari tahun 1957 sampai 2000. “Menariknya, kita melihat adanya perubahan makanan sejalan dengan meningkatnya populasi mamalia setelah digelarnya program Marine Mammal Protection Act pada tahun 1972 lalu,” kata Kim.
(Abiyu Pradipa. Sumber: Phys.Org)

Monster Laut Purba Gesit Mirip Hiu


Studi terbaru menyatakan bahwa mosasaurus tidaklah selambat yang diperkirakan selama ini.

Monster Laut Purba Gesit Mirip HiuEkor mosasaurus pertama yang tercatat miliki jaringan lunak yang terawetkan (gambar atas). Mirip dengan paus atau ichthyosaurs, mosasaurs lama-kelamaan mirip dengan penampilan hiu (gambar bawah). (Foto:Johan Lindgren; ilustrasi oleh Stefan Sølberg/National Geog)
Membayangkan ada monster laut yang berdiam di dasar menanti mangsa, sudah terdengar menakutkan. Apalagi ditambah fakta bahwa mereka mampu mengejar mangsa dengan kecepatan seperti hiu putih masa kini.
Inilah fakta yang terkuak mengenai mosasaurus dalam jurnal Nature Communication, Selasa (10/9). Spesimen berusia 72 juta tahun dari Prognathodon, genus dari mosasaurus, yang ditemukan di Yordania pada 2008, mengungkap adanya sirip mirip jaringan lunak di bagian ekornya. Cetakan sirip ini menunjukkan bahwa grup dari monster laut purba ini punyai ekor kuat, mirip dengan yang dipunyai hiu masa modern.
Mosasaurus adalah reptil air yang berkeliaran di laut dan aliran air tawar sekitar 98 - 66 juta tahun lalu. Penemuan adanya jaringan lunak ini tidaklah disangka oleh Michael Polcyn, paleontolog vertebrata dari Southern Methodist University, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
Fosil ini bahkan terawetkan dengan baik hingga para peneliti bisa melihat arah serat yang mengeras. "Anda juga bisa melihat uraian skalanya," tambah Johan Lindgren, pendamping dalam penelitian ini yang juga seorang paleontolog vertebrata dari Lund University, Swedia.
Mempertanyakan masa lampau
Selama 200 tahun, para peneliti mengira mosasaurus punya ekor mirip dengan ular laut. Lantaran mosasaurus nyatanya adalah kadal, mereka awalnya mengira pastilah ekor dari reptil ini mirip dengan relatif sesama kadal.
Namun, anggapan itu membuat monster laut ini miliki keterbatasan saat menyergap. "Sudah jadi anggapan umum bahwa kecepatan renang mereka lambat dan hal terbaik yang bisa mereka lakukan hanyalah menerjang dengan cepat," kata Burce Young, peneliti dari Kirksville College of Osteopathic Medicine di Missouri, AS yang mempelajari gerak reptil.
Bersamaan dengan penemuan baru ini, muncul pemikiran mungkinkah mosasaurus berenang menuju ke mangsanya? "Ini membuka cara baru menginterpretasikan hewan tersebut." kata Young.
Warisan kuno
Spesimen Prognathodon yang ditemukan di Yordania, miliki panjang hanya sekitar dua meter dan diperkirakan masih anak-anak. Bila sudah beranjak dewasa, genus dariPrognathodon bisa mencapai panjang sepuluh meter.
Penemuannya sendiri dilakukan oleh para pekerja yang tengah mencari bahan untuk keramik. Saat membelah batu kapur, mereka menemukan spesimen mosasurus di dalamnya.
Hani Kaddumi dari Eternal River Museum of Natural History di Amman, dihubungi untuk kemudian mengambil fosil tersebut. Fosil itu masuk dalam koleksi museum sebelum akhirnya dilihat Lindgren pada 2011.
Sayangnya, penemuan lebih lanjut tidak bisa dilakukan karena situs tempat fosil ditemukan adalah milik perusahaan. "Kita harus bergantung pada para pekerja untuk menemukan fosil lebih banyak lagi," kata Lindgren. Dicurigai, sisa fosil yang ditemukan malah dijual ke pasar gelap oleh para pekerja yang menemukannya.
(Jane J.Lee)

Membunuh Hiu, Pengadilan Australia Kenakan Denda Kepada Pria Ini


Pengadilan di Australia, menghukum Justin Adam Clark untuk membayar denda sekitar Rp 200 juta terkait kematian seekor ikan hiu putih muda.

Membunuh Hiu, Pengadilan Australia Kenakan Denda Kepada Pria IniDua warga di Sydney dihukum terkait kematian ikan hiu ini. (ABC)
Pengadilan New South Wales (NSW), Australia, menghukum Justin Adam Clark untukmembayar denda 18.000 dollar Australia (sekitar Rp 200 juta) terkait kematian seekor ikan hiu putih yang masih muda di pesisir selatan negara bagian itu.
Clark diajukan ke pengadilan oleh Departemen Perindustrian (DPI) NSW sehubungan dengan kematian seekor ikan hiu di Sussex Inlet pada Januari 2012.
Pekan ini, pengadilan memutuskan Clark terbukti bersalah menganiaya jenis binatang yang terancam punah itu.
Ikan hiu putih dilindungi di seluruh perairan Australia kendati Pemerintah Federal memberi pengecualian pada Pemerintah Australia Barat untuk membunuh ikan hiu yang besar.
Para saksi mengatakan, Clark (40 tahun), warga Sydney barat, dengan menggunakan kapal mengejar ikan hiu yang dilihatnya di daerah itu. Ia kemudian menggiring hewan itu ke air dangkal, sengaja menabraknya dengan kapal beberapa kali.
Pihak DPI mengatakan, luka-luka utama pada ikan hiu itu ialah karena ditabrak lambung kapal. Dikatakan, seutas tali diikatkan ke ekor ikan hiu itu dan ditarik kembali ke pantai dengan bantuan kapal lain.
Menurut DPI, ikan hiu itu kemudian dihantam sampai mati dengan batang logam.
Hakim memerintahkan Clark membayar denda 8.000 dollar ditambah biaya perkara 10.000 dollar lebih.
Pengemudi kapal satunya yang membantu menyeret ikan hiu itu ke pantai juga mengaku bersalah menganiaya jenis binatang yang terancam punah dan divonis hukuman percobaan enam bulan dengan uang jaminan.
Direktur Urusan Perikanan DPI Glenn Tritton mengatakan, ketidaktahuan bukan alasan untuk membunuh jenis binatang yang dilindungi.
"Vonis ini mengirim pesan kuat bahwa menganiaya jenis binatang yang terancam punah tidak akan ditoleransi," katanya.
(Egidius Patnistik/Kompas.com, Sumber: ABC Australia)

Riset: Hiu Putih Besar Lambat Dewasa


Hiu putih besar pejantan butuh waktu 26 tahun untuk mencapai kematangan seksual. Hiu betina bahkan memerlukan waktu 33 tahun untuk siap memiliki bayi.
Hasil riset terbaru menunjukkan waktu dewasa hiu jauh lebih lama dari estimasi sebelumnya, yakni 7-13 tahun bagi betina dan 4-10 tahun bagi pejantan. Temuan itu menyadarkan bahwa perkembangan populasi hiu amat lambat sehingga rentan terhadap ancaman.
Hiu putih besar sulit dipelajari. Ilmuwan umumnya mempelajari fauna itu dari hiu mati dan pengamatan di laut. Sejak 1920, ilmuwan biologi kelautan memperkirakan usia hiu putih besar dengan menghitung lingkaran-lingkaran di tulang belakangnya, tetapi pengukuran itu terkendala tak jelasnya lingkaran. Sejumlah teori menyebut populasi hiu turun karena makanan dan migrasi.
”(Sampai saat itu) kita tak tahu penyebab penurunan populasi hiu,” kata Lisa Natanson, peneliti hiu pada National Oceanic and Atmospheric Administration Northeast Fisheries Science Center, Jumat (20/2).
Riset Natanson dan tim, dalam jurnal PLOS One, memakai dokumentasi tes nuklir pada 1950-an dan 1960-an, serta menganalisis isotop radioaktif carbon-14 pada makhluk laut.
(Sumber: Kompas)

Temperatur Bumi Naik 2 Hingga 4 Derajat Celcius, Apa Dampaknya?


Kenaikan suhu bumi 2-4 derajat celsius memicu kenaikan paras laut global 16 sentimeter.

Temperatur Bumi Naik 2 Hingga 4 Derajat Celcius, Apa Dampaknya?Pencairan es sebagai dampak memanasnya Bumi akibat perubahan iklim. (Thinkstockphoto)
Kenaikan suhu bumi 2-4 derajat celsius memicu kenaikan paras laut global 16 sentimeter. Kenaikan akibat mencairnya es pada Lapisan Es Greenland.
Demikian penelitian tim yang terdiri atas 11 ilmuwan yang dipimpin ahli geologi Denmark, Nicolai Krog Larsen, yang dituliskan di jurnalGeology pada 18 Februari.
Tim mendasarkan perhitungan dari perilaku Lapisan Es Greenland pada 5.000-8.000 tahun lalu. Temperatur saat itu yang tertinggi, 2-4 derajat celsius lebih tinggi dari suhu bumi sekarang. Tebal lapisan bervariasi sejak Zaman Es berakhir 11.500 tahun lalu sehingga jejaknya hilang.
”Kami menghitung massa yang hilang selama pemanasan di masa lalu dengan mengombinasikan catatan sedimen danau dengan pemodelan canggih,” ujar Kurt Kjær, dari Museum Sejarah Alam Denmark. Penelitian dilakukan di enam musim panas.
Periode 8.000-5.000 tahun lalu dipilih karena saat itu suhu permukaan lebih tinggi 2-4 derajat celsius dari suhu sekarang.
Ukuran Lapisan Es Greenland saat itu mencapai ukuran terkecilnya. Berdasarkan pengetahuan itu, mereka menguji lagi semua model lapisan es yang ada dan memilih yang terbaik untuk menggambarkan ulang kondisi pemanasan pada masa lalu.
Kenaikan muka laut
Dari perhitungan menggunakan model, tampak bahwa pada periode itu kecepatan hilangnya lapisan es mencapai 100 gigaton per tahun selama beberapa ribu tahun. Pada saat itu, kenaikan paras laut setara dengan 16 sentimeter saat temperatur naik 2-4 derajat celsius.
Sementara, 25 tahun terakhir, es yang mencair bervariasi 0-400 gigaton per tahun. Suhu permukaan di Arktik diperkirakan naik 2-7 derajat celsius pada 2100.
Danau merupakan penyimpan catatan yang baik, menyimpan sedimen yang terbawa es mencair. Para peneliti mengambil sampel dengan memotong lapisan tanah dari danau yang dikelilingi es.
(Sumber: Kompas/Science Daily)

Dua Kabupaten di Pulau Flores, NTT Diguncang Gempa 7,1 SR


Gempa bumi berkekuatan 7,1 skala richter (SR) mengguncang dua kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dua Kabupaten di Pulau Flores, NTT Diguncang Gempa 7,1 SRIlustrasi gempa. (Thinkstockphotos)
Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Kupang Sudaryono mengatakan, gempa pertama terjadi di Kabupaten Flores Timur dengan kekuatan 7,1 SR sekitar pukul 20.45 Wita. Gempa berlokasi di 7,55 Lintang Selatan dan 122,60 Bujur Timur dengan kedalaman 572 kilometer. Pusat gempa berada di 104 kilometer barat laut Flores Timur.

Sementara itu, gempa kedua terjadi pada pukul 21.45 Wita. Pusat gempa berlokasi di 7,55 Lintang Selatan dan 122,60 Bujur Timur. Gempa tersebut berkekuatan 7,1 SR dan berada di kedalaman 572 kilometer. Pusat gempa terletak di laut, sekitar 113 kilometer utara Ruteng, Kabupaten Manggarai.

"Gempa yang tercatat di kita hanya sekali. Namun, efek gempanya terasa seperti dua kali karena dipengaruhi efek penjalaran gelombang gempa bumi di permukaan. Saat ini, kita sedang mencari informasi akibat efek gempa tersebut," ujar Sudaryono.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, gempa 7,1 SR yang terjadi pada pukul 20.45 WIB dirasakan sedang di beberapa wilayah timur Flores Timur bagian utara, seperti di Sikka dan Kupang. Masyarakat di Kabupaten Flores Timur, Kota Mataram, dan sebagian Bali merasakan guncangan gempa lemah.

"Belum ada laporan kerusakan dan korban jiwa. Kondisi masyarakat telah normal kembali," kata Sutopo dalam siaran persnya, Jumat.
Dampak gempa

Menurut dia, gempa 7,1 SR termasuk gempa berintensitas cukup besar. Namun, karena pusat gempa yang dalam, yaitu 572 km, kejadian ini diperkirakan tidak akan memberikan dampak yang merusak.

Dia melanjutkan, lokasi gempa merupakan zona sesaran aktif yang berada di sebelah utara Pulau Flores. Sesaran tersebut mengalami perpanjangan hingga di sebelah timur laut Bali yang dikenal sebagai Flores back arc thrust (sesaran naik belakang busur kepulauan Flores).

"Aktivitas dari sesaran naik belakang busur kepulauan inilah yang menyebabkan gempa bumi juga banyak terjadi di utara kepulauan Sumbawa hingga Flores," urainya.

Sutopo mengatakan, ancaman gempa bumi di wilayah NTT berada di selatan dan utara. Distribusi gempa yang terjadi di selatan Sumbawa dan sekitarnya merupakan akibat dari aktivitas di zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menghunjam di bawah lempeng Eurasia. Sementara itu, yang terjadi di bagian utara adalah gempa dari aktivitas sesaran aktif Flores back arc thrust.

"Untuk itu, masyarakat diimbau untuk selalu meningkatkan kewaspadaannya. Gempa bumi tidak dapat diprediksi kapan dan di mana. (Gempa) secara pasti akan terjadi," tandasnya. 
(Sigiranus Marutho Bere/kompas.com)