Selasa, 24 Maret 2015

Misteri "Hewan Teraneh" Temuan Darwin Terpecahkan

Analisis menggunakan protein kolagen kuno memungkinkan fosil lebih tua dapat teridentifikasi.

Misteri ''Hewan Teraneh'' Temuan Darwin TerpecahkanIlustrasi Toxodon. (Illustration by Peter Schouten/"Biggest, Fiercest, Strangest"/W. Norton Publishers)
Saat Charles Darwin mengunjungi Amerika Selatan sekitar tahun 1830an, ia menemukan beberapa mamalia besar seperti Macrauchenia dan Toxodon. Bahkan Darwin menyebut temuannya itu sebagai salah satu hewan teraneh yang pernah ditemukan.
Macrauchenia, hewan seperti unta bermoncong panjang dan Toxodon, hewan bertubuh badak atau kuda nil bergigi layaknya pengerat.
Sejak temuan Darwin itu, belum ada yang mampu mengklasifikasikan hewan-hewan tersebut dalam pohon keluarga hewan apapun. Namun, dengan bantuan analisis protein kolagen kuno pada fosil itu, peneliti menyatakan sudah memecahkan teka-teki itu.
Dari hasil penelitian, ilmuwan mengungkap rahasia spesies yang telah lama punah. Hewan teraneh yang pernah ditemukan Darwin ini kemungkinan berasal dari zaman 60 juta tahun lalu hingga 12.000 tahun lalu.  
Tentang nenek moyang hewan ‘aneh’ itu belum terjawab. Karena peneliti belum mampu mengungkap DNA dari fosil hewan berkuku di Ameria Selatan itu. Hal ini disebabkan karena peningkatan suhu udara di benua tersebut.
Ian Barnes, ahli biologi dari Natural History Museum di London mencoba penelitian dengan metode lain. Yakni dengan penelitian kolagen. Protein ini bertahan 10 kali lebih lama dibanding DNA, namun juga tetap merupakan komponen struktural tulang. 
Dari hasil penelitian itu, mereka mengklasifikasikan kerangka temuan Darwin itu dalam bagian kelompok Afrotheria bersama dengan gajah dan manatee (lembu laut). 
(Sumber: nature.com)

Promosi Kuliner Nusantara ke Dunia, Apa Kendalanya?

Ada tiga hal yang menjadi fokus para pakar kuliner Nusantara untuk mengembangkan promosi kuliner kita agar dapat bersaing dengan negara lain.

Promosi Kuliner Nusantara ke Dunia, Apa Kendalanya?Pindang bandeng, kuliner Imlek yang hanya ada di Indonesia. (kompas.com)
William Wongso, pakar kuliner Indonesia, mengemukakan pendapat mengenai kemajuan posisi kuliner Indonesia saat ini dalam sebuah bincang kuliner yang diadakan beberapa waktu lalu.
Ia berpendapat, geliat dari banyak pihak untuk mulai meningkatkan martabat kuliner asli dari negeri sendiri kian terlihat, di antaranya didukung oleh hadirnya era digital yang membuat berbagi informasi kian mudah.
Ditambah lagi, pemerintah mulai memberi dukungan, salah satunya melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat menterinya di periode lalu dijabat oleh Marie Elka Pangestu.
Namun perlu diakui, masih ada sejumlah hal yang seharusnya bisa lebih dimaksimalkan. William Wongso menyebutkan tiga alasan kuliner Indonesia sulit bersaing dengan kuliner khas negara lain.
Penyebab kurang maksimalnya kuliner khas Indonesia untuk menguasai lidah dunia, yakni:
1. Istana Negara tidak menyajikan sajian khas nusantara untuk tamu para pemimpin dari negara sahabat.
"Saya harus jujur, setiap ada tamu kenegaraan, misalnya presiden atau pemimpin negara sahabat, Istana Negara malah tidak menyuguhi sajian khas nusantara. Yang disajikan justru menu khas dari negara asal pemimpin negara tersebut. Padahal, sejatinya orang asing datang ke Indonesia pasti ingin mencoba makanan lokalnya, kan? Sayang sekali," tutur William.
2. Industri bahan baku asal Indonesia belum mampu bersaing dengan merek dari negara lain, misalnya Thailand dan Vietnam.
Otomatis, ini juga menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing.
"Harus diakui juga, masakan Indonesia memang belum berperan banyak dalam industri horeka (hotel restoran dan kafe) di dunia internasional.
Di luar negeri, saya sampai kesulitan mencari santan instan atau kecap asli dari Indonesia, sementara merek dari Thailand begitu banyak pilihannya."
3. Faktor pendidikan di bidang kuliner pun menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing di kancah dunia.
"Sekolah perhotelan setingkat SMK sebagian besar hanya mengajarkan menu-menu asing pada kurikulum utamanya. Setelah mereka menguasai menu asing, barulah diajarkan menu atau masakan khas Indonesia. Tapi sayang, pengajarnya tidak ada."
Tiga hal itulah yang menjadi perhatian William, yang menjadi alasan kuliner Indonesia sulit bersaing dengan masakan khas dari negara lain, terutama Thailand, untuk dikenal dan populer di mancanegara.
Sehingga ia berharap pemerintah yang baru sekarang ini juga bisa lebih mendukung geliat banyak pihak dalam meningkatkan martabat kuliner nusantara di mata dunia.
(Intan Y. Septiani, via tribunnews.com)

Sleepwalking, Kegiatan yang Dituntun Halusinasi

Sleepwalking terjadi saat tubuh anda berada pada stase tidur non-REM. Saat itu, alam bawah sadar mampu menuntun fisik melakukan hal-hal yang diinginkan.

Sleepwalking, Kegiatan yang Dituntun HalusinasiIlustrasi: Ketika tubuh mengalami sleepwalking. (thinkstockphoto)
Pernahkah anda mengalami sleepwalking?
Menurut Dr. Charlene Gamaldo, seorang direktur kesehatan di Johns Hopkins Center for Sleep, perilaku ini termasuk kategori parasomnia, yakni perilaku tidak biasa yang dilakukan ketika manusia dalam keadaan tidur.
Parasomnia sendiri dapat berupa sleepwalking (tidur sambil berjalan), mimpi buruk, agresi tidur (sleep aggression) dan juga sleepsex (sexsomnia).
Ketika anda mengalami parasomnia, tubuh anda akan mengikuti intuisi alam bawah sadar atau yang disebut sebagai halusinasi. Halusinasi tersebut yang "menuntun" tubuh anda untuk bangun dari tempat tidur dan melakukan hal-hal di luar kesadaran.
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat anda ketahui tentang sleepwalking atau tidur berjalan:
  • Waktu terjadinya sleepwalking
"Umumnya, segala kegiatan parasomnia terjadi pada saat tubuh sedang dalam kondisi sepertiga waktu tidur, yakni ketika manusia sedang berada pada stase tidur non-REM (waktu tidur tanpa mimpi)," jelas Gamaldo. Jika sleepwalking terjadi pada stase REM sleep, maka perilakunya disebut mengigau. Perilaku yang terjadi saat REM sleep dapat dikategorikan sebagai REM behavior disorder atau RBD, yang kemudian dapat disinyalir sebagai gejala gangguan neurodegeneratif seperti Parkinson atau gangguang mental Lewy (Lewy body dementia).
  • Para pelaku sleepwalking tidak mampu mengingat apa yang dilakukan saat merekasleepwalk.
Seorang pelaku sleepwalking akut, Catherine Losurdo (24), pernah mengalami sleepwalkingsaat sedang menginap di suatu hotel di Spanyol. Pada malam hari, ia keluar dari kamar dan turun menuju meja resepsionis di lobi, lalu kembali lagi ke kamar setelah meminta sang resepsionis menelfon kamarnya. Keesokan paginya, ia tidak ingat akan apa yang ia lakukan.
"Meskipun kejadian yang terjadi saat anda mengalami sleepwalking sangat menghebohkan di kala itu, anda tidak akan mengingat segala yang terjadi saat tubuh berada pada stase non-REM, bebeda jika kegiatannya terjadi saat stase REM." Jelas Gamaldo.
  • Pelaku sleepwalking berjalan dengan mata terbuka
Berbeda dengan kegiatan yang dilakukan saat manusia pada stase REM, pelakusleepwalking cenderung melakukan segala kegiatan saat sleepwalking dalam keadaan mata terbuka.
  • Jangan membangunkan orang yang sedang sleepwalking
Ketika anda melihat teman anda sedang berjalan dalam tidurnya, perlu diingat bahwa mereka sedang dalam keadaan dimana tubuh tidak bisa merespon dengan baik, dan cenderung agresif jika diganggu. "Lebih baik menuntun mereka kembali ke tempat tidur, daripada membangunkan mereka dalam keadaan bingung dan cemas," tutur Galmado.
(Difa Restiasari. Sumber: Huffington Post)

Anthropocene: Zaman Baru, Zaman Manusia

Para ilmuwan dan geolog mempertimbangkan perubahan proses penelitian masa depan dengan memberlakukan skala waktu Anthropocene atau Zaman Manusia.

Anthropocene: Zaman Baru, Zaman ManusiaPara ilmuwan sedang mempertimbangkan untuk mengubah skala waktu geologi berdasarkan kemunculan peradaban manusia yang disebut "age of men" atau "Anthropocene" (thinkstockphoto)
Para ilmuwan sedang mempertimbangkan untuk mengubah skala waktu geologi berdasarkan kemunculan peradaban manusia yang disebut "age of men" atau "Anthropocene". Perhitungan penanggalan tersebut rencananya dimulai tahun 1610.
Namun kendalanya: apakah jejak munculnya manusia bisa dijadikan acuan yang layak untuk mengubah ulang skala waktu tersebut?
Pada dasarnya, penamaan suatu era oleh para geolog dimulai ketika mereka menemukan sesuatu yang benar-benar baru. Hal yang ditemukan itu bisa saja berasal dari debu pada komet yang membunuh dinosaurus, atau dari fosil yang ditemukan ataupun hilang akibat terjadinya evolusi atau kepunahan massa.
Selama ini kita setia pada skala waktu geologis yang disebut era Holosen, skala waktu yang dimulai saat berakhirnya Zaman Es (ice age), yang terjadi sekitar 9300 SM.
Sebuah laporan hasil studi yang diterbitkan jurnal online Nature menyatakan bahwa titik mula era Anthropocene seharusnya dihitung per tahun 1610, tahun dimana bangsa Eropa mulai menjelajah Amerika. Namun para ilmuwan membantah ide tersebut. Dinilai, peristiwa tersebut masih kurang dramatis untuk mengubah penanggalan geologis.
Peneliti menyarankan tahun 1610 karena tahun itu merupakan tahun terakhir dimana karbon dioksida ada pada titik paling rendah di inti es.
Tahun 1800 juga disarankan sebagai tahun dimulainya penanggalan Anthropocene, dimana pada tahun itu terjadi peristiwa Revolusi Industri di Eropa. Tahun 1964 pun masuk nominasi, mengingat pada tahun tersebut kegiatan uji coba nuklir (dan bahan radioaktif lain) sudah mencapai puncaknya, sehingga meninggalkan jejak materi nuklir di seluruh planet.
Namun, keputusan penanggalan skala waktu Anthropocene akan diumumkan tahun depan oleh Anthropocene Working Group, yang terdiri dari ahli geolog yang ditugaskan untuk menentukan apakah istilah Anthropocene "layak (secara ilmiah)" dan "berguna sebagai istilah formal untuk komunitas-komunitas sains."
(Mary Beth Griggs/Popular Science)

Apakah Lautan Mulai Kehilangan Oksigen?

Karena perubahan suhu menyebabkan kawasan minim oksigen di lautan terus meningkat, baik secara vertikal maupun horisontal.

Apakah Lautan Mulai Kehilangan Oksigen?Fazlur/Fotokita.net
Beberapa daerah di perairan dalam mulai kekurangan kadar oksigen. Akibatnya, beberapa makhluk terbunuh, atau paling tidak cara hidupnya kini berubah.
Marlin adalah salah satu contoh atlet lautan yang sempurna. Seekor marlin dapat melompat ke udara dan melintasi lautan dengan jarak tempuh luar biasa jauh untuk berburu mangsa.
Kekhasan perilaku berburu pada ikan dibangun oleh beberapa kecenderungan. Seperti suhu pemanasan air laut yang akhirnya mengurangi kadar oksigen dalam laut. 
“Dua ratus meter di bawah permukaan laut, kadar oksigen begitu rendah. Berbeda dengan di permukaan,” ujar ahli biologi kelautan dari Hopkins Stanford University. 
Zona mati alias minim oksigen ini memang sudah ada. Akan tetapi, zona ini terus meluas baik secara vertikal maupun horisontal. Dahulu zona mati dapat ditemui di Teluk Meksiko, kini sudah menyebar si sebagian wilayah Pasifik Timur. Teluk Benggala, wilayah Atlantik, hingga lepas pantai Afrika Barat ikut menjadi kawasan minim oksigen.
Secara global, daerah rendah oksigen ini telah meluas lebih dari 4,5 juta kilometer persegi dalam 50 tahun terakhir. Fenomena ini disebabkan pemanasan global serta pengasaman laut. Akibatnya, rantai makanan spesies laut ikut terganggu.
Perdebatan tentang seberapa besar kerugian meluasnya kawasan minim oksigen di laut ini terus berkembang. Namun, dapat disimpulkan bahwa perubahan iklim telah mempercepat pengurangan kadar oksigen di lautan dan dipastikan memberikan kerugian besar.
Ikan, cumi-cumi, gurita, kepiting, dan semua spesies laut tentu membutuhkan oksigen. Sayangnya, oksigen bersifat dinamis dan terus mengalami perubahan karena beragam faktor.
Munculnya oksigen di lautan terjadi karena dua cara, yakni fotosintesis atau percampuran udara dengan air yang disebabkan angin dan gelombang.
Perluasan kawasan zona mati disebabkan karena dorongan suhu. Air hangat akhirnya menyebabkan oksigen larut. 
(Craig Welch/National Geographic)

Rekor Terburuk Dampak Pemanasan Global di Laut Artik

Cuaca panas yang tidak biasa di Alaska dan Rusia merupakan penyebab tingginya luas lelehan es di Laut Artik.

Rekor Terburuk Dampak Pemanasan Global di Laut Artik(thinkstockphoto)
Dalam musim dingin tahun ini, lapisan es di Laut Artik tercatat mencapai luas 14,5 juta kilometer persegi menurut Pusat Data Salju dan Es Nasional (NSIDC) dari Universitas Kolorado di Boulder.
Luas ini adalah yang terendah sejak 1979, ketika untuk pertamakalinya dilakukan pencatatan dengan satelit untuk mengukur luas lapisan es di sana.
NSIDC menyatakan tingkat maksimum lapisan es di kawasan ini telah tercapai pada tanggal 25 Februari tahun ini dan kini lapisan es mulai mencair seiring musim semi.
Jumlah yang tercatat pada akhir Februari adalah 130.000 kilometer persegi lebih rendah ketimbang rekor sebelumnya, yang tercatat pada tahun 2011.
Para ilmuwan percaya bahwa cuaca panas yang tidak biasa di Alaska dan Rusia berpengaruh terhadap berkurangnya lapisan es.
Peneliti masih akan mengumpulkan data rerata bulanan, yang dipercaya bisa menjadi indikator lebih baik untuk melihat dampak perubahan iklim.
Menanggapi data ini, Alexander Shestakov, Direktur WWF Global Arctic Programme, mengatakan, "Ini bukan rekor yang bisa dibanggakan."
Menurutnya lapisan es yang rendah dapat menyebabkan reaksi yang dapat 'mengancam Artik dan bahkan seluruh bumi.'
Dalam penelitian baru-baru ini, lapisan es di Laut Artik telah menipis 65% antara 1975 hingga 2012.
(Sumber: BBC Indonesia)

NASA Luncurkan Pesawat Peneliti Magnit Bumi dan Matahari

NASA meluncurkan pesawat antariksa dari Cape Canaveral, Florida.

NASA Luncurkan Pesawat Peneliti Magnit Bumi dan MatahariNASA meluncurkan pesawat antariksa dari Cape Canaveral, Florida. (AP/VOA Indonesia)
Badan Antariksa Amerika NASA telah meluncurkan empat pesawat antariksa yang dirancang untuk meneliti hubungan magnit antara Bumi dan Matahari.
NASA meluncurkan pesawat itu Kamis malam (12/3) dari Cape Canaveral, Florida, dalam roket yang tidak berawak.
Pesawat itu diperkirakan akan terbang dalam formasi piramida di orbit lonjong, yang memberi pemandangan tiga dimensiatau 3-D medan magnit ketika ke-4 pesawat itu berpisah dan berdekatan kembali, yang melepaskan banyak energi.
Pelepasan energi itu-lah yang menyebabkan aurora borealis atau yang disebut “Sinar Utara,” dan badai surya yang dapat mengganggu gelom
(Sumber: VOA Indonesia)